PURI dan PENCITRAAN KAMPUS

Setiap kali bertanya mengenai kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin yang pertama kali muncul di benak orang-orang adalah gedung perkuliahannya yabg bagus, kampus berperadaban, dan juga ilmu agama yang luas. Itulah serentetan jawaban positif yang berasal dari pihak external apabila dipertanyakan mengenai UIN Alauddin Makassar.

Mahasiswa yang suka demo dan perilaku mahasiswanya yang tidak mencerminkan sifat-sifat islami adalah serentetan tanggapan negatif mengenai UIN sendiri. Padahal katanya kampus berperadan dan Islami, maka seharusnya kedua hal tersebut tercermin pada mahasiswa-mahasiswanya.

Berbicara mengenai pencitraan, maka yang saya ketahui adalah salah satu upaya yang dilakukan agar suatu lembaga atau instansi baik di mata publiknya.

PURI adalah singkatan dari Pemilihan Putra Putri UIN Alauddin Makassar. Pelaksana dari kegiatan ini adalah salah satu Lembaga Informatika yang ada di Fakultas Dakwah & Komunikasi, yaitu Syiar FM.

Sebanyak 57 orang peserta mengikuti PURI ini yang berasal dari 8 fakultas yang ada di UIN ini. Yang menampilkan sejumlah bakat dan kemampuan dari masing-masing peserta.

Pandangan mengenai PURI ini sangat beragam. Cici putri anengsih dari Fakultas Kesehatan mengatakan kegiatan PURI ini sangat bermanfaat karena merupakan ajang kompetisi yang mengadu bakat dan kemampuan para pesertanya. Dengan adanya icon yang terpilih berharap dapat menhadi figure yang dapat memberikan contoh yang positif kepada para Mahasiswa dan Mahasiswi lain yang ada di UIN Alauddin ini.

Menurut project officer PURI 2013, Andi Muhammad Idham yang dikutip dari http://www.uin-alauddin.ac.id mengatakan bahwa “Yang menjadi icon terpilih akan melakukan kegiatan-kegiatan sosial, selain bermanfaat bagi masyarakat umum juga sebagai ajang sosialisasi kampus dan fakultas”.

Di lain tempat salah satu mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Makassar, Khusnul Maabi mengatakan bahwa pelaksanaan PURI yang ada di UIN itu sebenarnya kurang bermanfaat. Dia berharap agar yang telah terpilih sebagai PURI UIN dapat memberikan kontribusi yang berarti buat UIN itu sendiri. Jangan sampai setelah terpilih tidak memberikan kontribusi apa-apa buat UIN.

Dari pihak internal kampus sendiri, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Al-Qadri mengemukakan salah satu yang tidak disukainya pada pelaksanaan PURI adalah perempuan muslimah yang berkerudung tidak seharusnya berlenggak-lenggok diatas panggung pementasan, karena tidak sesuai dengan syariat Islam.

Jadi, kesimpulan yang dapat saya ambil dari hasil wawancara serta pengamatan mengenai pelaksanaan PURI ini terhadap pencitraa  UIN adalah melalui icon terpilih dari PURI UIN yang melakukan kegiatan sosial dan bermanfaat bagi masyarakat umum dapat membentuk bahkan nengembangkan citra positif masyarakat mengenai UIN dan juga icon terpilih PURI.

Di pihak internal sendiri kesimpulan yang dapat saya ambil adalah PURI dapat membentuk 2 citra, positif dan negatif. Dikarenakan ada-ada saja Mahasiswa yang kurang setuju dan ada juga yang setuju. Menurut saya selama selama icon terpilih UIN dapat memberikan contoh dan teladan yang baik kepada Mahasiswa lain yang ada di UIN, maka insya allah citra positif mengenai PURI akan semakin meningkat dan lama-kelamaan citra negatif yang berkembang dengan sendirinya akan memudar bahkan menghilang.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH🙂

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s